ads

» » Pesan Rahasia Untuk “Buzzer Politik” Dibalik Hasil Survei SSIC

Pesan Rahasia Untuk “Buzzer Politik” Dibalik Hasil Survei SSIC
RAKYATSUBANG.COM - Suhu politik menjelang Pilkada Kabupaten Subang 2018 semakin memanas, para tokoh politik mulai bermunculan di media sosial. Dengan lantang mereka bersuara, lalu suara mereka disebar oleh para buzzer secara membabi buta, hasilnya ada yang mulai gerah.
Apalagi setelah muncul sebuah hasil survei tokoh paling populer di Subang yang diekspos oleh lembaga survei Subang Strategic Information Center (SSIC). pada Sabtu (14/1/2017) lalu. Sedikit bocoran hasilnya menempatkan Eep Hidayat sebagai tokoh yang paling populer. Lalu disusul Plt Bupati Imas Aryumningsih, selanjutnya Atin Supriatin, Dedi Mulyadi dan diurutan kelima ditempati oleh Asep Rohman Dimyati.
Ada sekitar 37 tokoh yang masuk dalam katagori populer, namun karena terlalu banyak saya hanya menyebutkan lima tokoh teratas saja. Tokoh paling populer versi SSIC selengkapnya Anda bisa klik disini
Sebelum melakukan analisa, saya menyatakan sangat setuju dengan hasil survei SSIC. Eep Hidayat menempati tokoh paling populer merupakan sebuah keharusan karena beliau merupakan mantan bupati lebih dari satu periode. Modal awal sebagai mantan bupati sangat masuk akal jika beliau menempati urutan pertama.
Imas Aryumningsih juga saya sepaham dengan hasil survei. Menurut saya posisi kedua memang layak untuk sekaliber Imas yang saat ini menjadi Plt Bupati. Masih aktif sebagai Plt Bupati, sering berinteraksi bersama masyarakat dan baligo wajahnya dimana-mana merupakan modal yang sangat mendukung untuk membuat Imas menjadi populer.
Selanjutnya adalah Atin Supriatin, mantan Ketua DPRD dan bakal calon wakil bupati pada Pilkada 2013 yang berpasangan dengan Istri Eep Hidayat ini sedikit diluar dugaan saya. Menurut saya seharusnya Atin berada diposisi 10 besar saja. Tapi saya tidak bisa membantah hasil survei yang dilakukan SSIC karena tentunya mereka melakukan survei ini dengan metode yang benar.
Nama Dedi Mulyadi saya kira sangat layak berada diposisi keempat. Orang terkenal dari Purwakarta ini sudah saya perhatikan sepakterjangnnya dari dulu. Aktif di media sosial dan banyak diberitakan oleh media online dan televisi nasional membuat dirinya naik daun dan nma Dedi Mulyanipun muncul.
Urutan kelima adalah Asep Rohman Dimyati atau lebih akrab disapa ARD. Masih muda dan pernah menjadi bakal calon wakil bupati pada Pilkada 2013 yang berpasangan dengan Agus Maskyur adalah modal ARD ditambah baru-baru ini ARD mulai aktif di media sosial.
Buzzer Politik
Setelah saya paparkan sedikit tentang kelima tokoh terpopuler versi SSIC ini, kemudian saya akan menganalisa terkait keberpengaruhan para buzzer terkait popularitas mereka. Sebelum melangkah lebih jauh Anda harus mengerti terlebih dahulu definisi buzzer. Arti singkat dari bazzer adalah pengguna sosial media yang mempromosikan produk tertentu. Jadi dapat didefinsikan bahwa bazzer politik adalah pengguna sosial yang mempromosikan para tokoh politik tentunya, mereka adalah produknya.
Sampai sekarang apakah Anda mulai mengerti? Apakah Anda sering melihat lima tokoh yang saya maksud dipromosikan oleh pengguna media sosial seperti di Facabook dan Twitter. Kalau Anda sering melihat berarti orang yang mempromosikan tokoh tersebut adalah buzzer, dan mereka dibayar.
Setahu saya buzzer saat ini sudah menjelma menjadi pasukan yang tidak bisa diremehkan lagi dalam dunia politik. Dengan kekuatan mereka banyak tokoh politik yang sukses mengambil simpatik masyarakat. Banyak contoh para tokoh politik yang selalu menggunakan buzzer, sehingga buzzer bisa dikelompokan kedalam beberapa kelompok buzzer.
Pertama buzzer tapi tidak sadar dirinya dalah buzzer. Mereka adalah orang-orang yang belum paham menggunakan media sosial, kebanyakan dari mereka baru dalam dunia sosial media dan masih awam atau bahkan gaptek. Mereka sangat berpengaruh terhadap kesuksesan tokoh politik, tapi mereka tidak paham bahwa mereka sebenarnya telah dipengaruhi oleh buzzer sesungguhnya. Mereka gampang membagikan atau mempromosikan secara gratis yang sebelumnya dipromosikan buzzer beneran. apakah Anda termasuk buzzer jenis ini, tentunya adan tidak akan mendapatkan uang.
Kedua buzzer semi atau setengah buzzer. Mereka adalah kelompok orang-orang yang memahami gadget dan tentunya sudah paham dunia buzzer. Kelompok yang masuk dalam kategori bazzer semi adalah media online, artis sosial media dan orang yang memang bisnis didunia maya atau orang-orang yang membuat konten yang nantinya akan dibagikan oleh para buzzer sungguhan.
Terakhir yang ketiga adalah buzzer sungguhan. Mereka dibayar untuk mempromosikan tokoh politik, sesuai keingiinan tokoh. Bisa jadi hasil karya bazzer semi, atau sesuai pesanan tokoh. Buzzer sungguhan ada yang kerjanya memng sendiri, beberapa orang, berkelompok dan yang paling canggih adalah buzzer yang bernaung kedalam satu perusahaan, biasanya bazzer ini stu paket dengan lembaga survei atau perusahaan yang memang berkopenten melakukan survei. Nah, apakah SSIC itu ada paketan buzzernya?
Tokoh Politik
Bagi tokoh politik yang kurang populer atau dibawah lima besar dan tidak saya sebutkan jangan merasa dunia ini tidak berpihak kepada Anda. Tenang, ini hanya hasil survei paling populer. Ingat saya tegaskan ini hanya hasil survei paling populer. Jadi masih banyak kesempatan untuk membuat Anda populer, seperti memesan buzzer seperti apa yang saya jelaskan diatas. Jika Anda ingin benar-benar populer saya yakin Anda akan populer dalam waktu enam bulan, jika Anda memilih buzzer politik yang pas. Kalau perlu gunakan ketiga kriteria buzzer diatas. Segera pesan dan Anda akan segera populer.
Namun dalam hasil survei itu, saya kira bukan soal populer yang harus dibahas, karena ada pesan tersirat dalam survei itu. Ya, kenapa tidak dipublikasikan juga hasil survei terkait akseptabilitas tokoh tersebut. Karena memahami kecocokan masyarakat terkait tokoh politik adalah hal utama, jadi siapa yang populer tidak penting karena belum tentu tokoh itu cocok dan diterima oleh masyarakat.
Saya umpamakan Eep Hidayat, dalam hasil survei memang beliau sangat populer. Sayapun sangat sepaham. Namun apakah akseptabilitas Eep Hidayat bagus? Apakah masyarakat mau menerima dan cocok dengan Eep Hidayat. Anda sebagai masyarakat tentunya sudah tahu jawabannya. Pilihan ada ditangan masyarakat, namun popularitas dan akseptabilitas bisa didapatkan tokoh dengan mengikuti beberapa metode yang benar.
Media Sosial
Banyak tokoh politik yang mempunyai media sosial seperti Facebook dan Twitter, bahkan diantara mereka ada yang sudah memiliki website pribadi. Mereka yang sudah akrab dengan hal itu merupakan politisi yang tahu caranya populer dengan cepat. Mereka sangat paham benar bahwa media sosial menjadi salah satu yang berpengaruh untuk mendongkrak popularitas, selain buzzer.
Buzzer dan tokoh politik, dua hal yang harus disatukan. Namun ada hal penting sebelum para tokoh politik menggunakan jasa buzzer dalam mempromosikan dirinya. Hal pokok yang paling penting adalah buat akun media sosial dengan nama yang benar, lengkap dan jelas.
Kali ini saya akan mengumpamakan Dandim 0605 Subang Letkol Inf Budi Mawardi Syam. Beliau bukan tokoh politik, tapi sudah terlanjur masuk dalam bursa tokoh politik. Banyak buzzer kategori semi mempopulerkan beliau, sebut saja nama beliau sering muncul di media online.
Sayangnya mungkin karena tidak terkonsep dengan baik, dalam hasil survei Dandim harus puas diposisi bawah. Salah siapa? Salah buzzer tentunya, kenapa buzzer semi ketika membuat konten berita dalam judul hanya menyebut Dandim saja, tidak memakai kata Budi Mawardi Syam. Sehingga membuat nama Budi tidak terkenal sebagai pribadi, namun hanya terkenal sebagai Dandim. Singkat cerita masyarakat tidak tahu siapa Budi, mereka tahunya Dandim. Ingat: dalam membaca berita online masyarakat kebanyakan hanya judulnya saja. Oleh karena itu usahakan judul berita menyebut nama tokoh.
Selanjutnya kesalahan Budi Mawardi Syam adalah membuat akun Facebook dengan nama Bravo. Sebuah kesalahan patal jika itu dilakukan oleh tokoh politik. Masyarakat harus mendapat sosialisasi terkait nama yang jelas. Membuat akaun dengan nama samaran, anonim atau lain sebagainya adalah kesalahan besar dan akan memperngaruhi popularitas.
Facebook Group
Sebanrnya saya enggan membahas ini, tapi apa boleh buat ini hanya pemberitahuan saja. Kesalahan terbesar politikus Subang adalah banyak berwacana dan disebar di group Facebook. Padahal tidak semua group itu bagus, ada beberapa group sengaja notifikasinya dimatikan, jadi walaupun Anda berkoar-koar beberapa dari mereka tidak mengetahui koaran Anda.
Group Facebook merupakan pasilitas gratis untuk membagikan link hasil karya buzzer semi dan pandangan pribadi tokoh, namun tindakan ini sangat tidak saya sarankan. Lebih baik menggunakan yang berbayar, lebih maksimal dan tentunya hasilnya memuaskan. Bagi Anda tokoh politik yang masih gaptek sebaiknya Anda harus belajar ke Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi.
Group Facebook membuat orang tidak sadar, bahwa mereka disana sedang bicara dipinggir laut, tapi berasa sudah menguasai samudra. Coba lihat tokoh Pantura yang kebanyakan berkoar-koar di group Facebook, tanpa memanfaatkan buzzer, hasilnya tidak ada yang masuk survei. Kalaupun masuk pasti urutan bawah.
Kesimpulan
Buzzer dan tokoh politik tidak bisa dipisahkan, mereka selalu berdampingan karena takdirnya memang demikian. Sekarang tinggal bagaimana menjalin komunikasi yang baik antara tokoh politik dan para buzzer. Hal demikian sangat diperlukan karena hakikatnya memang seperti itu. Untuk menaikan popularitas tidak ada jalan lain selain menggunakan jasa buzzer. Kecuali Anda ingin menang tinggi dalam soal akseptabilitas.
Oleh: M RidwanPenulis merupakan seorang praktisi media di Kabupaten Subang 
Follow @rakyatsubang

Anindya Fauziah

«
Next
Posting Lebih Baru
»
Previous
Posting Lama