Jumat, Maret 11, 2016

Bukan Sekedar Cium Tangan

Bukan Sekedar Cium Tangan

SEBENARNYA gue sangat males sekali menuliskan beberapa kalimat mengenai peristiwa beberapa hari lalu itu. Namun karena secara tidak sengaja  gue melihat ada orang gundul terlihat mencium tangan orang itu, terpaksa deh gue harus menulis.

Sebelumnya gue ucapin banyak terimakasih kepada rakyatsubang.com yang mau dan sudi mempublikasikan tulisan gue ini. Karena jika tanpa website ini mungkin sekarang tulisan gue hanya menjadi sampah diotak gue yang kapasitasnya mungkin sudah mulai menyempit. hehe

Kalau nggak salah pada hari Kamis 3 Maret 2016 kemaren ada sebuah peristiwa dimana mantan bupati Subang Eep Hidayah diarak keliling Kota Subang. Gue menyaksikan konvoi diikuti oleh lumayan banyak orang. Sepeda motor dan mobil terlihat mengular.
Gue tidak tahu secara pasti dimana konvoi itu dimuali. Yang jelas iring-iringan sepeda motor dan mobil itu terlihat datang dari arah Subang Selatan. Saat tiba di jantung Kota Subang yakni Wisama Karya, iring-iringan berhenti dan disitulah terlihat pemandangan seseorang yang memiliki kepada gundul itu mencium tangan seseorang.

Adegan itu terekam dalam beberapa jepretan kamera dan menimbulkan hasrat dalam diri gue untuk bertanya kepada banyak orang. Sebenarnya siapa yang tangannya dicium itu. Iya, katakanlah itu mantan bupati. Tapi kenapa sebegitu mersaranya orang berkepala gundul itu sampai-sampai mencium tangan dihadapan banyak orang. Diakan mantan bupati?

Jika berpikir sejenak kebelakang, pikirkan saat kita semua masih sekolah punya guru baik, setiap hari kita akan mencium tangannya. Tapi suatu hari setelah 20 tahun tidak bertemu, guru itu terlihat berjalan dikerumunan orang. Saat ini jabatan mantan muridnya itu sudah menjadi pejabat. Apakah dia rela mencium tangan gurunya itu didepan orang banyak? Orang banyak itu semuanya menyegani pejabat yang 20 tahun lalu menjadi murid dan diajari oleh guru itu.

Tidak usah berpikir keras, bertanya kepada diri kita mau atau tidak? Yang jelas ini soal etika. Jika gue menjadi pejabat yang 20 tahun bertemu dengan gurunya itu. Gue akan tetap mencium tangannya. Tapi dengan etika gue sebagai pejabat, gue akan undang guru itu ke rumah. Memperlakukannya dengan baik dan tetap mencium tangannya karena itu merupakan guru itu sangat berjasa kepada gue.

Nah, jika melihat kasus seperti yang pernah gue lihat di Wisama Karya itu. Gue menyimpulkan, mungkin orang yang kepalanya gundul itu bekas murid orang itu. Tapi belum menjadi pejabat atau mungkin dia itu hanya rakyat biasa. Mungkin dia sangat merindukan sosok kepemimpinan saat mantan bupati itu menjadi bupati. Atau mungkin dia itu anaknya? Ah silakan saja tebak sendiri.

Sebelum pikiran gue keburu liar dan mendeteksi adanya beberapa kejanggalan perihal bukan cium tangan biasa ini. Gue fokuskan kembali kepada masalah konvoi. Bukan ramai karena ada orang gundul cium tangan, tapi setelah beberapa detik melakukan konvoi. Ratusan pengguna social terutama facebook secara terus menerus memposting foto dalam kegiatan konvoi itu. Ada yang memposting foto cium tangan yang gue ceritain panjang lebar, ada juga yang lagi berkerumun dengan masyarakat dan yang paling membuat hot itu, foto lagi di panggung sama ibu lurah Cigadung. Foto barengan sama ibu lurah Cigadung itu bikin hot banget. 

Bukan Sekedar Cium Tangan
Bu Lurah Cigadung saat bersama mantan bupati Subang Eep Hidayat diatas panggung saat acara temu kangen. FOTO: Facebook

Tidak usah diberi aba-aba untuk melakukan pembullyan, ternayata para pengguna facebook sudah sadar dan melakukan pembullyan secara mandiri dan gotong royong. Hasilnya jadi rame, tapi memang dasarnya ibu lurah yang cantik itu udah cantik, eh udah terbiasa mengghadapi hal begitu, ya… ibu lurah itumah saat berhadapan dengan pengusaha pasir dalam tanda kutif nakal berani, masa lawan masyarakat dunia maya yang nggak nyata-nyata amat nggak berani.

Ada yang komen, kok PNS ikut konvoi dihari kerja dan nggak izin? Haduh gue nggak tahu apa kurang update. Emang bu lurah PNS ya. Eh, iya yah….
Untuk update info ini baca dulu beda lurah sama kepala desa:  Menurut Wikipedia lurah merupakan pimpinan dari Kelurahan sebagai Perangkat Daerah Kabupaten atau Kota. Seorang Lurah berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Camat.

Tugas Lurah adalah melaksanakan Kewenangan Pemerintah yang dilimpahkan oleh Camat sesuai karakteristik wilayah dan kebutuhan Daerah serta melaksanakan Pemerintahan lainnya berdasarkan ketentuan Peraturan perundang-undangan.

Istilah Lurah seringkali rancu dengan jabatan Kepala Desa. Memang, di Jawa pada umumnya, secara historis pemimpin dari sebuah desa dikenal dengan istilah Lurah. Namun dalam konteks Pemerintahan Indonesia, sebuah Kelurahan dipimpin oleh Lurah, sedang Desa dipimpin oleh Kepala Desa. Tentu saja keduanya berbeda, karena Lurah adalah Pegawai Negeri Sipil yang bertanggung jawab kepada Camat; sedang Kepala Desa bisa dijabat oleh siapa saja yang memenuhi syarat, dan dipilih langsung oleh rakyat melaluiPemilihan Kepala Desa (Pilkades).

Jadi beneran ya… bu lurah itu PNS, kita abaikan saja. Mungkin dia merupakan salah satu PNS yang masih loyal kepada mantannya…. Eh, mantan disini maksudnya mantan bupati. Tapi tenang sama bupati sekarang juga pasti lebih loyal kan bu lurah? Jawab nggak ya….

Usai konvoi, usai juga membicarakan PNS dan siapa-siapa saja yang ikut dalam konvoi itu, mau dia lurah, kepala desa dan pejabat lainnya. Toh, itu merupakan hak semua orang untuk ikut berpartisipasi dalam merayakan kebebasan mantan bupati Subang itu. Seperti dalam judul acara itu ya acara “temu kangen” bolehlah bertemu untuk menuntaskan rindu yang tertahan akibat rasa kangen itu. Wong, gue juga kalau kangen sama istri harus buru-buru dituntaskan karena jika kangen atau rindu ditahan nanti akan timbul jerawat.

Lanjut… sekarang lupakan masalah kangen-kangenan dan cium tangan. Karena setelah konvoi usai tidak ada lagi kangen, yang ada katanya para kepala dinas dan pejabat lainnya pada takut? Emang takut kenapa? Kalau pada takut nggak mungkin dong ada foto selfie ketua DPRD Subang Ir. Beni Rudiono dengan mantan bupati itu. Selain itu banyak kok yang foto-foto selfie. Tapi kok dari perbincangan dan perdebatan dimedia social katanya pejabat pada takut.

Takut disini dalam tanda kutif. Ya, kalau takut sama bupati Ojang Sohandi itu masuk akal karena mereka saat ini dipimpin oleh beliau. Nah, ini takut sama mantan bupati. KOK BISAAAAAA

Kembali lagi kepada analogi bebas gue. Kita kembali lagi kemasa lalu disaat kita punya pacar pertama, kita pacaran bertahun-tahun terus karena ada lain hal dan sebagainya lalu kita putus. Kalau putusnya secara baik-baik, gue sama mantan gue yang dulu tetap baik-baik. Tapi kalau putusnya nggak baik, ya ujungnya pasti nggak baik juga.

Apalagi kalau kita putus sama mantan yang punya banyak menyimpan dosa kita. Pasti kita ketakutan, apalagi kalau mantan kita punya rahasia kita, seperti foto bugil kita bahwa yang lebih parah punya video porno berdua. Kalau mantannya jahatkan, setelah putus dosa-dosa itu bisa dijadikannya ATM. Sangat besar sekali kemungkinananya bahwa mantan pacar yang begitu bakal memeras kita. Untuk pas pacaran dulu belum sempat bikin dosa apa-apa jadi walaupun udah putus aman. Alhamdulillah.

Begitu mungkin analogi bebas gue, mau masuk atau nggak. Yang jelas ini sebuah pemikiran yang timbul akibat gue melihat peritiwa bukan cium tangan biasa. Sebenarnya kalau nggak ngeliat foto itu nggak bakalan deh gue nulis panjang lebar sampai 1.000 kata lebih begini. Sampai-sampai jari gue pegel.


Salah gotong royong…

Bagi teman-teman yang memiliki artikel dan opini menarik bisa dikirim ke rakyatsubangonline@gmail.com sekarang! Untuk info cek twitter @rakyatsubang

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Bukan Sekedar Cium Tangan