Selasa, Desember 29, 2015

Pupuk Bersubsidi di Subang Hanya Terserap 75 Persen

Pupuk Bersubsidi di Subang Hanya Terserap 75 Persen

RAKYATSUBANG.COM - Akibat adanya perlambatan masa tanam padi yang disebabkan kemarau panjang sebagai dampak elnino. Saat ini pupuk bersubsidi di Kabupaten Subang baru terserap sekitar 75 persen.

Dari total alokasi pupuk untuk Kabupaten Subang pada tahun 2015 sebanyak 47.637 ton, hingga Desember ini baru terserap 75 persen atau sekitar 35.729 ton. Sisanya, 9.668 ton belum terserap

Manajer Humas PT Pupuk Kujang, Ade Cahya Kurniawan, saat mengunjungi para petani di Kecamatan Dawuan, mengatakan saat ini memang sebanyak 9.600 ton pupuk yang dialokasikan untuk masa tanam 2015 di Kabupaten Subang, belum terserap.

"Iya, sampai saat ini memang baru terserap sebanyak 70 persen. Itu merupakan dampak dari kemarau panjang yang melanda hampir seluruh wilayah Subang," kata Ade Cahya Kurniawan,

Saat ini menurut Ade, sisa ribuan ton pupuk yang belum terserap tersebut, selanjutnya akan disimpan di Gudang Lini III Subang sebagai stok, untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dari para petani.

"Saat ini sisa pupuk itu kita simpaan sebagai stok. Itu yang sebanyak 9668 ton untuk stok, kita persiapkan untuk kebutuhan bulan Desember yang diperkirakan hanya butuh sekitar 4000 ton. Jadi untuk menghadapi lonjakan itu dipastikaan stok kita aman," tuturnya.

Ternyata minimnya penyerapan pupuk, juga berlangsung nyaris di seluruh daerah Jawa Barat. Dari total alokasi sesuai Pergub Jabar sebanyak 581.250 ton, pupuk yang sudah terserap petani baru 76 persen atau sebanyak 443.681 ton.

Dengan dimulainya musim tanam awal Desember ini, pihaknya memperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan, terutama di bulan-bulan Januari dan Februari 2016.

"Memang saat ini penyerapan masih rendah, karena pelaksanaan tanam padi belum merata, terutama di wilayah pantura. Lambannya masa tanam ini akibat cuaca elnino, yang menyebabkan kemarau berlangsung lebih lama," katanya.

Untuk mengantisipasi lonjakan tersebut, perusahaan sudah menyiapkan stok pupuk tambahan sebanyak dua kali lipat dari ketentuan Pergub Jabar. Yakni, sekitar 110.637 ton dari ketentuan minimum stok tambahan yang diatur pergub sebanyak 50.000 ton.

"Kami akan optimalkan stok tambahan ini, dan terus mendorong distribusinya ke gudang-gudang lini III di kabupaten/kota di Jabar, untuk antisipasi melonjaknya permintaan petani," katanya.

Masih menurut Ade, untuk mengawasi distribusi pupuk kepada para petani, pihaknya memantau ketat 10 distributor dan 258 kios resmi, yang beroperasi di Kabupaten Subang. 10 distributor itu beroperasi di wilayah selatan, tengah, dan pantura Subang.

"Kita pantau terus, kita akan memberi sanksi tegas kepada kios-kios nakal yang melakukan penyimpangan, atau menjual pupuk subsidi melebihi HET (harga eceran tertinggi, red) yang ditetapkan," katanya.

Saat ini untuk HET yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp1.800/kilogram untuk urea, Rp2.300/kilogram untuk NPK, dan Rp500/kilogram untuk organik. Sesuai aturan yang berlaku, kios yang melanggar akan dikurangi wilayah edarnya. Sanksi seperti ini, cukup efektif mencegah penyimpangan.

"Untuk meminimalisir kios-kios nakal saat ini kita memberi warna pink pada pupuk subsidi untuk membedakannya dari non subsidi dan meminta para pemilik kios agar tidak menjual pupuk selain kepada petani, untuk mencegah penyimpangan dan kemunculan kios ilegal," katanya.

Kepala Seksi Sumber Daya Buatan Dinas Pertanian Subang, Nana Suryana, mengatakan saat memang penerapan rendah. Oleh karena itu pupuk yang tidak terserap tersebut akan segera dikembalikan kepada PT Pupuk Kujang.

"Iya, memang penyerapannya rendah. Ini akibat terlambatnya masa tanam, sebagai dampak kemarau panjang. Hingga pertengahan Desember ini, sisa pupuk yang tidak terserap mencapai 9.000 tonan lebih," katanya. (*)


Follow @rakyatsubang

Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pupuk Bersubsidi di Subang Hanya Terserap 75 Persen